Transformasi Sertifikasi di Era AI, Forum LSK Gelar Halal Bi Halal dan Rakornas 2026

 

Jakarta, lskbattraramuanindonesia.com – Forum Lembaga Sertifikasi Kompetensi (LSK) menyelenggarakan Halal Bi Halal Syawal 1447 H, Bincang Kompetensi, dan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) 2026 di Auditorium Ki Hajar Dewantara, Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta, Kamis (16/4). Kegiatan ini menjadi ajang strategis untuk memperkuat tata kelola LSK sekaligus merumuskan arah kebijakan sertifikasi kompetensi nasional di tengah perubahan dunia kerja. Rakornas yang berlangsung pukul 09.00–14.30 WIB tersebut tidak hanya menjadi forum koordinasi rutin, tetapi juga ruang konsolidasi antar pemangku kepentingan dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia. Dalam suasana kebersamaan Halal Bi Halal, kegiatan ini mempererat sinergi antar LSK yang tersebar di berbagai sektor. Ketua Forum LSK periode 2020–2026, Aji Samsurizal, menegaskan pentingnya menjaga marwah organisasi dengan mengedepankan kepentingan bersama serta memperkuat peran LSK sebagai pilar sertifikasi kompetensi nasional yang profesional dan kredibel.

Sementara itu, Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi PKPLK Kemendikdasmen, Tatang Muttaqin, menekankan bahwa forum ini harus melampaui aspek seremonial dan mampu menghasilkan langkah konkret. Menurutnya, kebutuhan dunia kerja saat ini menuntut kolaborasi lintas kompetensi, bukan sekadar keahlian individual. “Dalam menghasilkan suatu karya, dibutuhkan orkestrasi berbagai kompetensi dari yang sederhana hingga kompleks. Ini menjadi tantangan bersama yang harus dijawab oleh sistem sertifikasi,” ujarnya. Ia juga menyoroti sejumlah tantangan mendasar, mulai dari kompleksitas birokrasi, kesenjangan akses, hingga relevansi sertifikasi terhadap kebutuhan industri. Tanpa standar kompetensi yang kuat dan diakui secara luas, tenaga kerja Indonesia dinilai berisiko tertinggal dalam persaingan global. Dalam konteks globalisasi tenaga kerja, sertifikasi kompetensi menjadi instrumen penting untuk memastikan pengakuan profesional lintas negara. Oleh karena itu, konsistensi standar, transparansi proses, serta adaptasi terhadap perkembangan industri menjadi kunci utama.

Rakornas tahun ini juga mengangkat isu transformasi kompetensi di era kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Tatang Muttaqin mengingatkan bahwa sistem sertifikasi harus bertransformasi dari sekadar penguasaan hafalan menuju penguatan kemampuan berpikir kritis, pemecahan masalah kompleks, serta keterampilan humanis seperti empati. “Pekerjaan rutin kini banyak digantikan teknologi. Sertifikasi harus mampu menilai kompetensi yang tidak mudah tergantikan oleh mesin,” tambahnya. Namun demikian, transformasi digital juga menghadirkan tantangan dalam hal pemerataan akses. Keterbatasan infrastruktur di sejumlah daerah berpotensi memperlebar kesenjangan jika tidak diimbangi dengan kebijakan yang inklusif. Selain itu, Rakornas menegaskan perlunya sistem sertifikasi yang lebih adaptif dan lincah (agile), agar mampu merespons perubahan cepat di dunia industri. Penguatan soft skills seperti komunikasi, kolaborasi, dan kemampuan belajar berkelanjutan juga menjadi perhatian utama.

Sekretaris LSK Battra Ramuan Indonesia, Mahput, yang turut hadir dalam kegiatan ini menyampaikan bahwa transformasi sistem sertifikasi harus tetap mempertimbangkan kearifan lokal dan karakteristik bidang keahlian, khususnya dalam pengobatan tradisional. “Dalam bidang pengobatan tradisional, kompetensi tidak hanya soal teknis, tetapi juga menyangkut etika, empati, dan pemahaman menyeluruh terhadap pasien. Transformasi sertifikasi perlu tetap mengakomodasi nilai-nilai tersebut,” ujarnya. Sebagai bagian dari rangkaian acara, Forum LSK turut memberikan penghargaan kepada sejumlah lembaga berprestasi, termasuk LSK Battra Ramuan Indonesia. Penghargaan ini diberikan kepada Penguji, yaitu: Sdr. Al Anhar Gumay, ASP, CHt dan Sdri. drh. Endah Sri Rahayu, A.Md.Kep sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi aktif dalam pengembangan kompetensi di bidang pengobatan tradisional serta komitmen dalam menjaga standar mutu sertifikasi.

Rakornas Forum LSK 2026 juga menjadi momen penting dalam proses regenerasi kepemimpinan organisasi. Tongkat estafet kepemimpinan kini resmi diserahkan kepada jajaran pengurus Forum LSK periode 2026–2028, yang dipimpin oleh Kannu Kosasih, bersama Afrosin dan RM Alfian. Mereka didukung oleh jajaran pengurus lainnya, yaitu Ade Triana, Ibnu, Purwanti, dan Elsa Sigar, serta tetap didampingi para pembina dan penasehat Forum LSK. Bendahara DPP ASPETRI (Asosiasi Pengobat Tradisional Ramuan Indonesia), Luli Herawati, secara khusus memberikan ucapan selamat atas bergabungnya Ketua LSK Battra Ramuan Indonesia, RM Alfian, dalam jajaran pengurus Forum LSK. Luli menilai bahwa kehadiran RM Alfian di jajaran pengurus akan memperkuat perspektif holistik dalam pengembangan sistem sertifikasi kompetensi nasional, terutama dalam mengintegrasikan nilai-nilai kearifan lokal dengan standar profesional modern.

Kepengurusan baru periode 2026–2028 diharapkan mampu melanjutkan tonggak yang telah dibangun dengan kokoh serta membawa Forum LSK semakin profesional dan kredibel dalam memberikan layanan kepada seluruh LSK. Dengan menggabungkan agenda silaturahmi, diskusi strategis, dan konsolidasi nasional, Rakornas Forum LSK 2026 diharapkan tidak hanya menghasilkan rekomendasi, tetapi juga menjadi titik awal reformasi sistem sertifikasi nasional menuju SDM unggul, adaptif, dan berdaya saing global. (Kel)

Scroll to Top