Sejarah Singkat Sumpah Pemuda

sejarah singkat sumpah pemuda “Jangan warisi abu Sumpah Pemuda, tapi warisi lah api Nya. Kalau sekadar mewarisi abu, saudara- saudara akan puas dengan Indonesia yang sekarang sudah satu bahasa, bangsa, dan tanah air. Tapi tentu itu bukan tujuan akhir,” pidato Soekarno dalam peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-35 di Istana Olahraga Senayan, Jakarta, 28 Oktober 1963 silam.

Peringatan Sumpah Pemuda telah menjadi bagian penting bagi sejarah bangsa Indonesia. Peristiwa ini memiliki andil besar dalam usaha perjuangan kemerdekaan. Saat itu, hadir suatu cara pandang nan revolusioner yang datang dari kaum muda yang berasal dari berbagai latar belakang organisasi, daerah, ras, dan agama. Mereka berhasil membangun tradisi baru perjuangan guna meraih kemerdekaan. Peristiwa sumpah pemuda menjadi satu titik awal perwujudan kesadaran kolektif sebagai sebuah bangsa. Tanpa peristiwa ini, mungkin saja semangat persatuan melawan penjajah tidak pernah terwujud.

Proses membangun kesadaran kolektif sebagai sebuah bangsa telah dimulai sejak tahun 1890-1930. Di periode ini mulai tumbuh semangat perjuangan kemerdekaan yang dipelopori sebagian besar oleh kaum milenial. Visi yang diemban pun mengalami perubahan orientasi dari semula bersifat kedaerahan, meluas dengan terbentuknya jiwa kebangsaan dan nasionalisme. Perjuangan melalui gerakan terorganisir pun mulai bermunculan, seperti : Budi Utomo (1908), Sarikat Islam (1912), organisasi kedaerahan seperti Jong Java (sebelumnya bernama Tri Koro Dharmo pada tahun 1915), Jong Sumatranen Bond (1917), Jong Ambon (1918), dan Jong Celebes (1919).

Organisasi-organisasi perempuan pun juga bermunculan, seperti organisasi Putri Mardika (atas bentukan Budi Utomo di tahun 1912), Sekola Kautamaan Istri (Tasikmalaya tahun 1913), Keradjinan Amal Setia (didirikan oleh Rohana Kudus di Bukittinggi tahun 1914), Wanito Hadi (Jepara 1915), Sarekat kaoem Ibu Soematera (Bukittinggi 1920), Kemadjoean Istri (Jakarta dan Bogor 1926), Mardi Kamoeliaan (Madiun 1927), dan Ina Toeni(Ambon 1927)

Sejarah Singkat Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928

Jauh sebelum lahirnya sumpah pemuda, perjuangan agar dapat terbebas dari belenggu penjajahan dibangun dalam semangat feodal yang kental dengan nuansa patronase. Perjuangan pun masih dilakukan hanya dalam bentuk fisik dan terfragmentasi menurut ikatan kesukuan dan kedaerahan. Kondisi ini kian memuluskan praktik politik adu domba bangsa kolonial yang sedari awal tau akan kelemahan dari bangsa yang memiliki keberagaman. Memasuki abad 20 arah perjuangan di Indonesia mengalami pembaharuan dengan ditandai lahirnya gerakan pemuda intelektual, lingkar- lingkar belajar, pendidikan-pendidikan politik yang mengadopsi pengetahuan eropa, menyerap ide- ide kebebasan, mempelajari teori-teori perjuangan rakyat di berbagai Negara hingga pergolakan revolusi besar seperti di Rusia. Hal tersebut mendorong pemuda intelektual Indonesia untuk menuangkan gagasan nya kedalam gerakan pembebasan rakyat atas penjajahan kolonial. Pun demikian pembentukan kesadaran nasional pada waktu itu melalui bantuan kapitalisme percetakan di Indonesia. Percetakan menjadi media pembentukan bahasa nasional (lingua franca) yang mampu

membentuk jiwa sebangsa setanah-air dan menularkannya hingga ke pelosok-pelosok negeri. Lahirnya Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928 bermula dari sebuah manifesto politik yang dikeluarkan oleh Perhimpunan Indonesia (PI) di Belanda pada tahun 1925. Gerakan ini mengeluarkan tiga pokok pemikiran. Pertama, rakyat Indonesia sudah sewajarnya diperintah oleh pemerintah yang dipilih sendiri. Kedua, dalam memperjuangkan pemerintahan tidak diperlukan bantuan dari pihak manapun. Dan yang ketiga, tanpa persatuan, perjuangan tidak akan dicapai. Menindaklanjuti gerakan ini Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI) mengadakan pertemuan para pemuda se- Nusantara, yakni Kongres Pemuda I (30 April 1926 – 2 Mei 1926, di Jakarta) dan berlanjut pada Kongres Pemuda II (27 – 28 Oktober 1928, di Jakarta). Pertemuan kedua dihadiri oleh beberapa organisasi pemuda kedaerahan seperti Jong Java, Jong Celebes, Jong Sumatranen Bond, Jong Ambon, Jong Batak, Jong Islamieten Bond, Pemuda Kaum Betawi dll dan para peserta kongres telah menyepakati dasar-dasar persatuan dan melahirkan Sumpah Pemuda dengan ikrar “Mengaku Bertumpah Darah Satu-Tanah Air Indonesia, Berbangsa yang Satu-Bangsa Indonesia, dan Menjunjung Bahasa Yang Satu- Bahasa Indonesia”. Dengan demikian, Sumpah Pemuda bukan hanya mendorong semangat persatuan rakyat Indonesia. Namun, Sumpah Pemuda juga membangun tradisi baru perjuangan mencapai kemerdekaan. Gagasan kebangsaan Indonesia merupakan hal yang progresif. Oleh karena itu, dengan cara ini bangsa yang terjajah dapat menghimpun kekuatan guna melepaskan diri dari cengkraman kolonialisme dan rakyat Indonesia dimungkinkan mencapai keadilan dan kesejahteraan rakyat.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *